🥅 Seorang Tukang Kebun Yang Hanya

Seorangtukang kebun yang hanya menamatkan pendidikannya hingga sekolah dasar, berhasil menyekolahkan anaknya menjadi seorang arsitek, merupakan contoh dari? Mobilitas gerak sosial geografis; Mobilitas antar generasi; Mobilitas sosial geogragis; Mobilitas vertikal; Semua jawaban benar; Jawaban: B. Mobilitas antar generasi Ditengahlamunannya, sang raja melihat seorang tukang kebun yang sedang bekerja sambil tertawa. Setiap hari ia datang dengan senyuman dan pulang dengan keceriaan. Padahal gajinya sangat pas-pasan dan rumahnya begitu sederhana. Namun anehnya, jumlah uang didalam kotak itu hanya 99 dinar. Dia pun menghitung ulang lagi, tapi tetap jumlahnya 99. Seorangtukang kebun ingin memagari kebun yang ia miliki. Ia hanya bisa memagari kebun dengan keliling 100 m. Jika pagar yang diinginkan berbentuk persegi panjang berapa luas maksimum kebun yang bisa yG5L. Ini catatan seorang tukang kebun. Bahwa di kebun ada pohon. Ada tukang kebun. Keduanya sama pentingna. Karena tidak mungkin ada kebun tanpa ada tukang kebunnya. Kebun tanpa tukang kebun bisa garung. Tukang kebun tanpa kebun pun bisa bingung. Saling membutuhkan dan melengkapi. Di kebun. Tiap pohon harus tumbuh, Tukang kebun harus merawatnya. Dari benih pohon yang kecil. Disirami, dipupuki, dan dirawat hingga tumbuh besar dengan “pegangan akar” yang kokoh. Tukang pun begitu. Harus tetap tumbuh jadi pribadi yang kokoh, dinamis, dan bermanfaat. Minimal untuk pohon-pohon yang dirawatnya. Bukan malah begitu-begitu saja. Apalagi berkeluh-kesah melulu. Di kebun lagi. Ada pohon yang tidak kuat diterpa angin. Ada yang mudah rontok daunnya begitu digoyang sedikit. Ada pohon yang kecilnya tumbuh bagus tapi giliran mau berbuah busuk. Bahkan ada pohon yang masa tumbuhnya jelek. Tapi saat berbuah luar biasa rasanya. Jadi, pohon-pohon di kebun itu berbeda-beda. Tapi satu yang pasti, semua pohon butuh udara butuh angin untuk tetap tumbuh. Pohon punya cara sendiri-sendiri untuk bertahan hidup. Seperti tukang kebun dan manusia umumnya. Tiap orang itu berbeda-beda. Ada yang mudah mengeluh. Ada yang kokoh dalam keadaan apapun. Bahkan ada yang mudah “tercerabut dari akarnya”. Karena penuh prasangka dan didominasi ego pribadi. Manusia yang terlalu percaya pada otaknya, Tanpa punya hati Nurani. Maka, ada orang yang niatnya baik tapi perilakunya melukai. Ada yang rakyat biasa tapi bertindak seperti pemimpin. Hingga lupa, tukang kebun dan manusia siapa pun itu bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa pula? Di kebun, siapa pun bisa belajar dan diingatkan. Bahwa tiap pohon itu berbeda-beda. Tukang kebun pun harus tahu dan mengenal karakter setiap pohon. Karena yang baik untuk pohon singkong. Belum tentu baik untuk pohon singkong. Maka siapa pun harus mau memahaminya. Apa yang baik menurut Anda, belum tentu baik untuk ora g lain. Apa yang biasa menurut pikiran Anda, belum tentu biasa untuk orang lain. Itulah manusia yang literat. Seperti di taman bacaan. Tiap anak-anak yang membaca buku pun berbeda-beda. Latar belakang-nya berbeda, keluarganya beda bahkan minat bacanya pun berbeda. Maka taman baca hanya menyediakan akses bacaan. Sambil membimbing dan merawatnya. Agar membaca jadi kebiasaan dan perilaku anak-anak. Daripada kebanyakan main, ngobrol atau main gawai. Ibarat kebun, taman bacaan pun ditumbuhi banyak pepohonan. Maka buruh cara untuk merawatnya. Itulah yang terjadi di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor yang kini menjalankan 11 program literasi, antara lain 1 TABA Taman BAcaan dengan 160 anak pembaca aktif dari 3 desa Sukaluyu, tamansari, Sukajaya, 2 GEBERBURA GErakan BERantas BUta aksaRA yang diikuti 9 warga belajar buta huruf, 3 KEPRA Kelas PRAsekolah dengan 26 anak usia PAUD, 4 YABI YAtim BInaan dengan 14 anak yatim, 5 JOMBI JOMpo BInaan dengan 8 jompo, 6 TBM Ramah Difabel dengan 3 anak difabel, 7 KOPERASI LENTERA dengan 28 ibu-ibu sebagai koperasi simpan pinjam untuk mengatasi soal rentenir dan utang berbunga tingg, 8 DonBuk Donasi Buku untuk menerima dan menyalurkan buku bacaan, 9 RABU RAjin menaBUng karena semua anak punya celengan, 10 LITDIG LITerasi DIGital seminggu sekali setiap anak, dan 11 LITFIN LITerasi FINansial. Bahkan tahun ini, melalui program “Kampung Literasi Sukaluyu” yang Direktorat PMPK Kemdikbudristek RI dan Forum TBM, TBM Lentera Pustaka akan memperkuat perilaku gemar membaca dan budaya literasi masyarakat. Kebetulan, TBM Lentera Pustaka Bogor merupakan satu-satunya taman bacaan dari Bogor yang terpilih 1 dari 30 TBM di Indonesia yang menggelar Kampung Literasi tahun 2021. Filosofi tukang kebung dan taman bacaan. Sungguh ada kesamaan. Untuk bertindak sesuai keperluan masing-masing pohonan. Di kebun, siapa pun tidak boleh pakai kaca mata kuda. Seperti di taman bacaan. Sama sekali tidak bisa menilai orang dengan standar diri kita. Belum tentu, apa yang kita piker baik itu baik pula untuk orang lain. Karena senyuman, teguran, sapaan, dan nasihat bisa berbeda arti dan makna di mata masing-masing orang. Pupuk pun berbeda untuk tiap-tiap pohonan di kebun. Maka di kebun dan taman bacaan. Siapa pun hanya butuh sikap saling mengerti. Cukup bertindak sesuai keperluan masing-masing pohon. Tidak usah berlebihan. Tapi jangan sampai kekurangan. Di kebun, siapa pun bila tidak punya cinta, cukup mengerti saja. Di kebun, ada satu yang pasti. Bahwa semua pohon harus disuburkan, ditumbuhkan. Sebagai tanda kemanfaatan untuk sesama makhluk-Nya. Karena seperti apa kita memperlakukan-Nya dan makhluk-Nya. Seperti itulah balasan yang akan diterima. Baik atau buruk adalah tergantung kita sendiri. Salam literasi. TamanBacaan PegiatLiterasi TBMLenteraPustaka KampungLiterasiSukaluyu Post Views 1,758 Home » Kongkow » Tahukah Kamu » Guru Ibarat Tukang Kebun! Mengapa Demikian? - Jumat, 14 September 2018 1047 WIB Sebuah kelas ibarat taman, para siswa adalah bibit dan gurunya adalah tukang kebun. Setiap kali para siswa memasuki taman, tanggung jawab guru untuk mengatur aktivitas yang menarik, dipenuhi dengan makanan dan tantangan, yang memungkinkan siswa tumbuh kuat dan tinggi pada kemegahan alami mereka. "Tukang kebun tidak bisa mengendalikan pertumbuhan tanaman mereka. Namun satu hal yang pasti. Jika bibit tidak ditanam, tidak ada yang tumbuh sama sekali." Guru harus bersabar dengan bibit, karena tidak peduli berapa banyak air atau seberapa banyak sinar matahari yang mereka terima, mereka semua adalah individu, dan akibatnya, mereka semua akan tumbuh dengan cara mereka sendiri, dengan cara mereka sendiri, selama waktu mereka sendiri; tidak ada yang sama Beberapa siswa akan mekar lebih awal dan beberapa akan mekar belakangan. Beberapa akan memerlukan perhatian ekstra dan beberapa akan memerlukan dorongan tambahan. Beberapa akan tumbuh dengan kehendak liar mereka sendiri, seolah mencoba menahannya akan sama berbahayanya dengan mencoba mengunci angin di sebuah ruangan. Dan sesekali, sayangnya, akan ada orang yang menolak untuk tumbuh sama sekali. Tukang kebun tidak bisa mengendalikan pertumbuhan tanaman mereka. Namun satu hal yang pasti. Jika bibit tidak ditanam, tidak ada yang tumbuh sama sekali. Seorang guru hanya sebagus bunga yang tumbuh di kebunnya. Selama bertahun-tahun, ribuan anak-anak dan orang tua telah menaruh kepercayaan mereka pada bimbingan guru. Ini adalah tanggung jawab yang besar bagi seorang guru. Itu adalah salah satu yang sangat dihargai. Kepercayaan seperti itu telah memberi rasa hangat dan berharga. Sesekali siswa datang; sang guru selalu mengagumi siapa mereka dan bagaimana mereka berevolusi. Guru tidak bisa menahan diri sejenak untuk menatap mereka saat mereka berdiri di depannya dengan segala kemegahan mereka. Sang guru ingin mengatakan, "Lihatlah dirimu! Hanya ada satu dari kalian, dan saya cukup beruntung menjadi bagian dari hidup kalian saat kalian masih menjadi benih." Ini selalu sangat berat bagi guru. Betapa mulianya profesi ini; betapa beruntungnya guru. Apa yang bisa lebih baik dari ini? Sekarang setelah ribuan siswa, ribuan pelajaran, ribuan tantangan, guru sangat bangga dengan kebunnya yang terus berkembang yang bunganya tersebar di seluruh dunia. Mereka adalah guru; mereka adalah tukang kebun, dan itu membuat perbedaan. Artikel Terkait Saat Gibran Menjual Barang dengan Harga Rp Gibran untung 20% dari Harga Beli. Berapa Harga Barang Tersebut? Dalam Sehari Kuli Bangunan Bekerja Sebanyak 9 jam. Setiap Minggu Dia Bekerja 5 hari Dengan Upah Hitunglah Luas Permukaan Tabung yang Berdiameter 28 cm dan Tinggi 12 cm! Sebuah Kemasan Berbentuk Tabung dengan Jari-jari alas adalah 14 cm. Jika Tinggi Tabung 15 cm, Tentukan Luas Permukaan Tabung Tersebut! Edo Memiliki Mainan Berbahan Kayu Halus Berbentuk Limas Segitiga. Tinggi Mainan Itu 24 cm, Alasnya Berbentuk Segitiga Siku-siku Hitunglah Volume Seperempat Bola dengan Jari-jari 10 cm Seorang Anak Akan Mengambil Sebuah Layang-layang yang Tersangkut di Atas Sebuah Tembok yang Berbatasan Langsung dengan Sebuah Kali Jika Diketahui Panjang Rusuk Kubus Seluruhnya 72 cm, Maka Volume Kubus Tersebut Adalah? Sebuah Bak Berbentuk Kubus dengan Panjang Sisi 7 dm Berisi 320 liter air. Agar Bak Tersebut Penuh Hitunglah Volume Kerucut Terbesar yang Dapat Dimasukkan ke dalam Kubus dengan Panjang Sisi 24 cm Cari Artikel Lainnya - Kisah inspiratif datang dari pria asal Afrika Selatan. Pada 18 Mei 2019 lalu, Lukhanyo Mafu baru saja lulus dari universitas yang sama di mana ia penah bekerja sebagai tukang kebun selama tujuh tahun. Melansir dari How Africa, dia bekerja sebagai tukang kebun di Universitas Fort Hare UFH untuk mendapat sedikit penghasilan setiap hari. Sekarang ia mendapat gelar sarjana Ilmu Sosial dari UFH di usianya yang ke-39. Upah sebagai tukang kebun yang diterimanya hanya sekitar USD 5 per bulan. Beruntung, ia dibantu National Aid Financial Student Scheme untuk membiayai kuliahnya. Awal mula mimpinya bisa terwujud adalah berkat bantuan salah seorang staf akademik UFH, Awonke Tshefu. Ia meminjamkan 200 Rand atau sekitar Rp 200 ribu untuk membayar biaya pendaftaran pada 2014. Baca Juga Bangun Bisnis Camilan Sajodo, Sepasang Anak Muda Kerjakan Puluhan Karyawan dan Berangkatkan Umrah Namun, aplikasi Lukhanyo ditolak saat itu. Meski begitu, ia tak menyerah, kembali mendaftar dan berhasil masuk di kampus yang sama dengan tempat kuliah Nelson Mandela dan Robert Mugabe, dua tokoh terhormat di Afrika Selatan. Perjalanan hidup Lukhanyo Mafu sebenarnya cukup berliku. Saat usianya 24 tahun, ia divonis 15 tahun penjara atas kejahatan yang hingga kini tak pernah diakuinya. Lukhanyo Mafu. Facebook/Tshefu JuniorPada 2011, ia dibebaskan dan memilih kembali ke kampung halamannya di Alice. Ia pun mencari pekerjaan demi membantu keluarga yang ditinggalkannya bertahun-tahun. Hingga akhirnya pada 2012, Lukhanyo pun mendapat pekerjaan sebagai tukang kebun di Fort Hare. Kini, Lukhanyo Mafu berharap gelar yang berhasil diraihnya itu bisa membuka jalan untuknya membelikan rumah yang layak bagi keluarga. "Yang aku inginkan hanyalah ibu dan saudara-saudaraku bangga padaku lewat pekerjaan layak yang bisa kudapatkan dan membangun rumah yang layak bagi mereka," ujarnya, seperti dikutip dari Now This. Baca Juga Lulusan Cumlaude Ini Naik Sapi Hadiri Wisudanya di Kampus, Netizen Ternyata Raju Kuliah di UNS

seorang tukang kebun yang hanya